Anak SOLID Unhas : Jebolan Reformasi ’98 ?

Sarjana kedokteran berkacamata sedikit tebal itu, tiba-tiba dengan sengaja mengisi WA-ku dengan mengawali salam dan permohonan maaf.

“Minta maaf kak, belum saya antarkan kaos Brisbane – Aussie pesanannya. Saya masih di Jakarta mengedit buku/concensus report “The Sciences for Indonesia’s Bioversity”.

“Akhir pekan depan, insya Allah saya antarkanki”, lanjutnya.

“Siaaap dinda”, balasku.

“Saya sudah baca diskusi buku 98-99 di Tribun Timur”.

“Mantap kanda”, pujinya – memakai simbol jempol.

Aku kemudian mengupload berita berita koran Kompas berjudul “Tiga Warga Meninggal Kelaparan di Maluku”.

“Waduuh, terjadi lagi rawan pangan”, tanggapnya

Aku mengupload lagi,  gambar 3 profesor  kesehatan masyarakat  (kesmas) ternama di Indonesia yang memilih bercaleg di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Maklum ketiga profesor tersebut,  suhu dan senior ‘dekat’ku.  Lalu aku menimpali ;

“mungkin ini alasan senior-senior kita bercaleg ria”.

Phd dari  Melbourne University – Australia ini menulis :

“Bagus juga kalau para senior dari kalangan profesional masuk politik. Ini lagi mengawal RUU Sisnas Iptek yang rancangannya kacau sekali khususnya mengenai kolaborasi internasional untuk riset. Di birokrasi lumayan banyak yang  ngerti tapi di parlemen….wadduuh ! sedikit sekali yang mau lihat data dengan teliti.”

“Mestinya sebaya ta ndi, yang masuk arena ?”, bujukku.

“Masalahnya yang sebayaku di parpol dan parlemen banyakan retorika ji kanda. Baru sebagian besar tak punya skill profesional. Di parpol dan parlemen jadi predator. Di birokrasi lumayan banyak anak muda terdidik baik dan profesional dan bisa lihat data. Di parlemen sedikit sekali yang begitu.” tukasnya.

“PSI kelihatannya cukup banyak potensil tapi belum teruji apakah bisa dapat suara signifikan?”. timbangnya.

Dosen FKM Unhas ini, tahun 2017-2018 mendapat Asia Leadership Fellow Program di Jepang. Tahun depan insya Allah akan mengikuti jejak Prof. Nurholis Madjid (Cak Nur) mengikuti Eisenhower Fellowship (American Fellowship). Cak Nur orang pertama yang menikmati American Fellowship ini.

***

“Jangan ki dulu kasih tau kak Taslim !”, pinta Cawi ketika sedang asyiek mengikuti tes calon KPPU. Cawi akhirnya terpilih sebagai anggota KPPU, bahkan kemudian terpilih lagi sebagai Ketuanya hingga mengakhiri periodenya. Cawi kini Komisaris Utama (Komut) PTPN 6 Sumatera.

Cawi dan SKed itu, keduanya diakui Arshanty (Ketua SEMA FH ’98) sebagai konseptor ulung menggagas buku pemikiran mahasiswa SOLID Unhas bertajuk “Pekik Dari Seberang Lautan Yang Terjarah”. Konsep mendasar tentang Otonomi Daerah berbasis provinsi (tak seperti saat ini setiap hari bupati/walikota jadi santapan OTT KPK).

***

Saat gerak jalan IKA Unhas di GBK, Eka Sastra (anggota DPR RI dapil  Bogor dan Cianjur) berbisik padaku :  “Saya masih mahasiswa baru saat itu, tapi saya terlibat total dalam setiap aksi reformasi mahasiswa SOLID Unhas”.

Lulu dan Boge, maba hukum dan ekonomi –  barisan ’98 paling belakang  yang ditaruh di depan saat orasi pendudukan Bandara Hasanuddin – Mandai, keduanya memilih jadi dosen, kini strata tiga.

Salah seorang usulan calon WD 3 FKM Unhas  bernama Yahya Thamrin, PhD jebolan University of Adelaide – Australia  hampir 3 tahun yang lalu. Yahya adalah Ketua SEMA FKM kala reformasi bergulir.

***

Siang ini, di WAG Alumni Unhas koordinator meja  (koordinator BEM se-Unhas termasuk Politeknik) SOLID ’98 Unhas saat reformasi, Aryanto Karma Wisesa mencoba memahami pikiran seorang seniornya.

“Maaf kakak  petta, pertanyaan tentang tokoh mahasiswa 98 adalah pertanyaan dari dulu. Kami tidak menanggapinya bukan berarti kami tidak peduli, tapi kami berkonsentrasi pada arah gerakan yang cepat pada waktu itu. Dan bagi kami tidak adanya penyebutan nama tokoh bukan karena kesepakatan melainkan adanya pembagian tugas masing-masing serta bagi kami tokoh adalah panutan yang di nisbahkan pada seseorang, biarlah waktu yang akan menjawabnya.”

Sesaat yang lalu, aku mengirim buku 98-99 pada Yansi via jasa ‘go send’ ke kantornya, juga berencana mengirim buku pada kakak petta, berharap bisa membacanya dengan tenang dan hikmat agar bisa ‘memahami’ di mana dan ke mana SOLID Unhas kini, pasca 20 tahun reformasi bergulir.

 

BuKit BAruga___________, sianghari 29/08/2018