Dongeng Intelektual Pinggiran

Tamalanrea, Makassar :  1990 – 1995  

Bram akhirnya meninggalkan Lorong  108 – gang buntu – markas besar juragan kambing, lokasi petapa Biararomoromo – kampoeng toea Baraya, kecamatan Bontoala, memasuki kawasan bagian utara kota Makassar. Lorong yang berseberangan kampus lama Universitas Hasanuddin berbatas jalan Kandea.

Di lorong itu, Bram melepas masa kecilnya, menikmati masa-masa remaja dan kemahasiswaannya, lingkungan yang amat dibanggakannya.

Kini, Bram bakal kehilangan aroma ‘orang-orang susah’ berkejaran waktu, memikul beban hidup yang tak berkesudahan.

Di lorong itu, Bram dan seperjoangannya menyusun perlawanannya – mengenal kata peduli dan memihak.

Di lorong itu,  Bram mengasah cakrawala intelektualnya, membentuk jati dirinya.

Di lorong itu, lorong pembebasan dirinya.

Bram kini bergeser ke perumahan dosen (perdos) Universitas Hasanuddin (Unhas), Kelurahan Tamalanrea,  sekitar 10 kilometer dari kegenitan kota Makassar.

Keputusannya meninggalkan lorong kambing itu merupakan pilihan amat berat dihati Bram. Ia bagai ‘dirampok’ dalam keramaian kota, rumah warisan orangtuanya di gang-buntu Baraya harus ‘dilego’ agar bisa menyatukan DP perdos di Tamalanrea. Bram memilih hijrah ke pinggiran, mengejar secuil harapan baru — hidup layak !!!.

Di tempatnya yang baru – perdos Tamalanrea, pernah dikeluhkan salah seorang dosen muda sebayanya.  Dosen muda itu masih amat ragu tinggal di situ.

Kata dosen itu;

“Waaduuhhh …. sunyi bos, sepi tak bersenandung, seakan tak ada napas kehidupan”.

Tapi Bram sepertinya tak peduli.

Dari titik keraguan yang ada dalam dirinya, kini berubah jadi secercah harapan baru bagi seorang dosen lajang.

Pada sang teman itu, Bram bertanya lagi;

“Apakah benar di perdos Tamalanrea, ada makhluk hidup ?”, mengulang kekhawatiran Juanda – dosen sebayanya, sesama aktivis mahasiswa mantan  pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (FIISBUD) 1979/1980.

“Adaaa !!!”……..jawab temannya itu.

“Naaah !!!” …. “Let’s go” – lesanGko gondolo (minggur lu gundul).

Ternyata, sudah ada beberapa dosen menghuni perumahan lama dibagunan awal tahun 1980-an.  Ada pula perumahan lainnya  yang dibangun koperasi pegawai, akhir 1980 – 1990an.

Salah satunya, blok yang ditawarkan pihak koperasi untuknya. Penataan bloknya pun sekenanya, ditentukan para tukang becak dari kampung belakang – Tambasa. Tukang-tukang becak itulah melakukan sosialisasi blok baru perumahan Unhas Tamalanrea, terutama saat memakai jasa tumpangan becak mereka.

“Kalau begitu, kita pindah”, jawab sang teman sedikit optimis.

***

Setahun setelah kepindahannya, kak Anno – seorang senior Bram yang sempat mengetahui kepindahannya, merasa iba dan prihatin pada Bram :

“Gimana kamu ini Dinda, ngaku ‘pejoeang bangsa’, tapi malah tergusur ke pinggiran?”

Senior tersebut merasa sedih, melihat perkembangan perjalanan hidup Bram, tokoh pergerakan mahasiswa dari lorong kambing, melakukan perlawanan sengit, dari tahanan ke tahanan, dicemoh, disisihkan — kini sempurna — terdampar ke pinggiran kota.

Di mata seniornya itu, Bram seperti pewaris riwayat pribumi  tempo ‘doeloe’ yang tergusur dari gemuruh pembangunan kota ke pinggiran nan sepi.  Riwayat perebutan ruang-ruang perkotaan yang kemudian kian dikuasai elit-kota, para pelaku kolusi klasik,  pengusaha ‘ali-baba’. Mereka itulah yang gegap-gempita membangun simbol-simbol kecongkakan kapitalisme – gedung-gedung mewah, perhotelan, jejeran ruko-ruko menerobos badan jalan, menguasai pasar swalayan dan sendi-sendi kehidupan hakiki lainnya. Nasib dan takdir seakan bersamaan menggumuli Bram.

Risau sang senior jadi kenyataan.  Di kampung Tamalanrea,  tempat tinggal Bram yang baru, meskipun penduduknya dihuni banyak pengajar salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia Bagian Timur,  ternyata — para penghuninya — tak mampu menyanyikan lagu kebangsaan INDONESIA RAYA secara baik dan sempurna.

INDONESIA —- tanah airku.  INDONESIA —- tanahnya Unhas,  air milik PDAM.

Sungguh, suatu potret anak bangsa nan memprihatinkan.

Pilu rasanya !!!

Terbetiklah kisah tanahmerah Tamalanrea :

Bermula dari status pemilikan tanah di perdos Unhas Tamalanrea — ternyata milik kampus – aset negara, cuma bangunan yang mereka miliki, itu pun ditebus dengan cicilan belasan tahun dari sebuah bank swasta.

Jika kemarau panjang merebak, mereka akan mengalami musim kelangkaan air — air bersih malas tersembul dari lapisan bebatuan keras di perut bumi Tamalanrea.

Jangan heran, bila berkendara suatu sore sekitar perdos Tamalanrea itu,  akan berpapasan sebuah mobil mewah tapi bagasinya berhimpit jeringen berisi 20-30 literan air bersih.  Air itu diambil dari kota berasal dari rumah keluarganya di kawasan mentereng.

Para dosen yang memilih hidup [—bahkan matinya] di perdos Tamalanrea, terutama yang telah berkeluarga harus menabung, menguras beberapa bulan gajinya untuk membiayai pengeboran tanah berlapis batu cadas, mencari mata air di ke dalaman lapisan kulit bumi Tamalanrea. Semakin dalam pengoborannya — semakin mahal biayanya, namun tetap tak ada jaminan semburan airnya layak minum.

Di awal pagi menerawan, burung gereja terbang berkejaran,  saat dosen-dosen itu bertemu tak berjanji, ketika mereka jogging di sekitar perumahan atau menyeberang ke area kampus.

Mereka doyang berbagi  ‘derita’ — maksudnya cerita.  Mereka mengangkat topik utama – bagai suatu pertanyaan atau pernyataan penelitian : “sejauhmana kedalaman pipa bor galian air tanah di rumah mereka, agar bisa menyemburkan air dari lapisan bebatuan keras”.

“Saya lihat di rumah bapak, ada pengeboran air”, kata salah seorang dosen yang terlihat lebih senior di antara mereka, berusaha membuka pembicaraan.

“Benar pak, sudah 60 meter dalamnya”.

“Sudah ada airnya, tapi masih berbusa. Jadi saya minta di bor lagi lebih dalam.”, sambut dosen tetangganya itu.

Coba didiamkan beberapa hari lamanya, lalu tilik kembali kejernihannya”, dosen senior itu memberi pertimbangan atas pengalamannya.

“Yah…..yah…”, angguk tipis dosen tersebut mencerna pertimbangan itu.

“Saya cuma 35 meter kedalamannya pak, air sudah jernih, sambung dosen lainnya tersenyum sedikit bangga akan keberhasilannya mengebor air tanah di rumahnya.

Hari-hari saat jedah menunggu semburan air tanah-bebatuan Tamalanrea, terlihat silih berganti mobil pengangkut air bersih komersil menyinggahi konsumen mereka di perdos Tamalanrea. Laris manis tangki air bersih itu, meski kurang jelas darimana sumber airnya.

Begitulah secuil ‘kisah-pagi’ sejumlah penghuni perdos Tamalanrea di masa awal  dekade 90an.  Trending topic-nya ‘krisis air bersih’. Senada ‘Kemarau’ – lagu The Rollies.

Panas nian kemarau ini

Rumput-rumput pun merintih sedih

Resah tak berdaya di terik sang surya

Bagaikan dalam neraka

Curah hujan yang dinanti-nanti

Tiada juga datang menitik

Kering dan gersang menerpa bumi

Yang panas bagai dalam neraka

***

Kisah di lain hari, ketika orang-orang di perdos Unhas Tamalanrea, hendak ke luar rumah mengisi weekend keluarga mereka — ‘rekreasi’ ke pusat kota Makassar yang berjarak sekitar 10 kilometer. Mereka mengisi weekend mereka setelah melewati perkuliahan yang menjemukan.

Jika mereka ditanya mau ke mana ?, mereka sekonyong-konyong menjawab bareng;

“Mau ke kota”,

“Mau masuk kota !”

“Kota ?” ……. terasa miris.

Tamalanrea puluhan tahun silam simbol urban-pinggiran kota Makassar.  Doeloe, tapal batas kota berakhir di sudut barat jembatan Tello. Kini di sisi jembatan itu berdiri sebuah mall bernama Makassar Town Square (M’tos), mengingatkan kita pada Cilandak Town Square (Citos) di kawasan Jakarta Selatan.

Konon Walikota Makassar kala itu, merestui  M’tos Mall dibangun agar bisa ‘menyanggah’ arus penduduk belahan timur Makassar berbelanja masuk kota, meski segmen M’tos berisi kalangan menengah ke bawah berisi keluarga prajurit, PNS muda, dan mahasiswa baru yang berasal dari kampung.

Itulah secuil kisah segerombol intelektual Makassar yang terdesak ke pinggiran.

Kala itu, gaji dosen belum begitu menjanjikan, belum ada tunjangan fungsional, apalagi tunjangan kehormatan. Kesejahteraan, kemakmuran dan tetesan kebahagiaan lainnya masih sebatas dambaan dan impian indah para PNS.

***

Legenda intelektual pinggiran itu, seakan tak habis.  Kisah beberapa dosen senior di kawasan perumahan lama Tamalanrea, karena gaji dan honornya lebih banyak – mereka sudah mampu beli mobil sedan, tetapi mobil-mobil mereka sering diplesetkan sebagai mobil ‘brimob’ – brigade mobil bekas. Ihwalnya, karena mereka lebih banyak di bawah mobil dari pada membawa mobil, artinya baru ratusan meter menuju kampus untuk beri kuliah, ekhhhh …. mobil mereka tiba-tiba berhenti tak mau bunyi apalagi bergerak  alias mogok.  Sang dosen pun terpaksa tiarap, merayap-menyelusup masuk di bawah body mobilnya. Sang dosen kemudian mengamati, memeriksa bagian-bagian yang disinyalir sumber mogok – tidak berfungsi. Lalu, dosen itu pun melakukan kajian ‘analisis-penyebab’ mengapa mobilnya mogok lagi ?. Setelah menggunakan seperangkap perkakas yang tersimpan di bagasi mobilnya, maka tibalah saatnya Sang Dosen itu menarik “kesimpulan sementara”, ternyata :

“Sisa satu yang tidak bunyi, klaksonnya.”

Seketika ia teringat syair lagu lama dari penyanyi kondang Lilis Suryani – dengan hitsnya – Si Jago Mogok.

Si jago mogok namanya kuberikan

Keluar bengkel sebulan masuk lagi

Apaan tuh ………

 Syahdan,  dikisahkan pula tentang seorang dosen senior Fakultas non Fiisbud, acap pagi terlihat ber-becak-ria berangkat dari rumahnya, lalu turun di pintu masuk perdos Unhas Tamalanrea dengan wajah segar – berseri menua, begitulah dilakoninya setiap pagi kala ingin mengajar di kampus.

Sebenarnya, dosen senior itu memiliki dua buah mobil sedan, tapi mobil tersebut lebih sering digunakan anak-anaknya. Suatu pagi, ada sejawat menanyakan padanya;

“Mengapa Bapak membiarkan anaknya bermobil, sedangkan Bapak sendiri dijemput becak, lalu melanjutkan berkendaraan umum (angkot) ‘pete-pete’ masuk kampus ?”.

Dosen senior itu dengan santainya menjawab :

“Mereka itu khan anak dosen – anak profesor”.

“Saya ini,  cuma anak petani”.

***

Kondisi sarana-prasarana perdos Unhas Tamalanrea yang miris, terkadang dijadikan ajang ‘jualan politik’ di setiap Pemilihan Rektor Baru. Sang kandidat ‘ngecap politik’, bila kelak terpilih, akan membangun beberapa titik sumber air, menyediakan bus khusus mengangkut dosen dari perdos – kampus (pp). Lebih menjanjikan lagi di setiap Pemilihan Rektor, tak jarang sering mondar-mandir ‘kaki tangan’ kandidat rektor itu, terlihat sibuk mengukur luas area tanah di lokasi perdos, konon tanahnya akan dibebaskan dan segera disertifikatkan.

Dosen-dosen ‘pemilik suara’ itu ….. tergoda. Mereka pun bersemangat menulisi blanko isian format data luas area tanah kediamannya, tak lupa membubuhi tanda tangan.  Entah untuk keberapa kalinya pendataan itu dilakukan. Meski amat nyata, ukuran kapling setiap dosen tak lebih dari 15 x 20 meter persegi sesuai jatah awal —meski ada pula yang lebih luas tanahnya.

Seakan menorehkan lagi harapan walau terasa kabur, tetapi ‘transaksi’ ini seakan menghibur para penghuni perdos. Saat pemilihan Rektor berlangsung, mereka ke bilik suara. Ampuh …. Si Penjanji bisa terpilih lagi jadi rektor.

Kini saatnya menagih janji, setidaknya memperjelas janji mengenggam harapan memiliki sertifikat tanah perdos Tamalanrea.

Sampai saat ia dan keluarganya meninggalkan perdos Unhas Tamalanrea, janji politik itu makin absurd saja.

Kala senja datang, serangkaian iringan burung gereja berdesis nyanyian sendu, berkejaran ingin bertengger di antara jejeran pepohonan di tepi jalan poros tengah perdos Unhas Tamalanrea setiap sore.

Burung gereja itu bercanda-ria menghabisi senja seakan ingin bermalam di deretan pepohonan itu, tapi ketika magrib bertanda diiringi langgam ayat-ayat suci Al Quran mulai berkumandang dicorong TOA masjid terdekat, burung-burung gereja itu bersamaan terbang menjauh seakan takut di kejar malam.

Malam turun tak bergairah, menebar gelap mengepung Tamalanrea. Cahaya lampu di teras rumah perdos memancarkan kelelahan penghuninya. Malam semakin kelam, tak jauh dari blok jejeran rumah dosen itu, dari bilik seorang mahasiswa penunggu rumah dosennya – (bilik bergorden sarung samarinda, kiriman ibunya dari kampung), terdengar suara merdu Iwan Fals bersama Frenky Sahilatua menyanyikan ‘Orang Pinggiran’ memasuki bait kelima, lantunan nada mereka seakan menikam gelapnya malam.

Orang pinggiran

Didalam lingkaran

Berputar putar

Kembali kepinggiran

 Lagunya nyanyian hati

Tarinya tarian jiwa

Seperti tangis bayi dimalam hari

Sepinya waktu kala sendiri

Sambil berbaring meraih mimpi

Menatap langit langit tak perduli

Sebab esok pagi kembali.