Hikmat Mempekerjakan Sahabat

 

Terkadang bila kita kurang arif mempekerjakan seorang sahabat, bisa berakhir dengan kesedihan.  Berusaha memposisikan diri secara benar dan tulus, kata orang bisa melanggengkan persahabatan

Entah sudah berapakali aku bertemu kedua sahabat itu, di antara pengunjung setia warung kopi (warkop) tertua di kota metaverse di bilangan pemukiman Tionghoa. Sudah begitu lama tak melihat keduanya bercengkerama di warkop tertua.

Keduanya biasanya mengisi meja tengah berkursi dua. Biasanya mereka langsung menyapa bila aku melangkah masuk di warkop tua itu, sebagai pertanda menghormati seniornya. Kesempurnaan menghormati senior tersebut ditandai pula menebus sajian kopi dan kue yang aku santap. Yang satu adalah pak bos, dan satunya lagi sahabat yang dipekerjakan, begitulah aku berkira memandangi mereka berdua, atau mengajak bercakap soal kampus, politik, karier, profesionalisme dan kebudayaan.

Aku tak begitu tahu, apa bisnis kongsi keduanya. Apalagi keduanya tentu tak berminat menjelaskan bisnis apit mereka. Samar-samar saja terlintas core bisnis ‘hebat’ keduanya dari berbagai ungkapan di sosial-media terbatas, dibumbui pula sedikit  “proud”.

Sontak aku tertegun, mendengar berita keduanya sudah pecah kongsi.

Ihwalnya karena saling mengukur sumberdaya, pak bos bilang sahabatnya itu — tak bersungguh-sungguh, sehingga kurang memberi pencerahan bagi badan usaha yang dimilikinya. Sebaliknya, sahabat yang dipekerjakan ini — merasa sudah bersungguh-sungguh menggunakan  kapasitas yang dia miliki, meski  digaji sedatar UMP.

Belakangan pecah kongsi itu merembes saling ‘mengharukan’, sesekali saling ‘mencerca’ meski masih sebatas sahabat.

Permakluman mempekerjakan sahabat sebaya — bisa sensitif dan beresiko, karena tupoksi yang dilonggarkan. Si Bos — tak sampai hati membuat batasan delegation and responsibility. Akibatnya posisi dan proporsi bisa luntur.

***

Aku pernah dengar kisah dua sahabat (salah seorang di antara keduanya adalah sahabatku). Kisahnya bermula ketika perekonomian Indonesia mengalami goncangan hebat akibat krisis global. Salah seorang di antara keduanya adalah pengusaha korporat kaliber nasional dengan core bisnisnya di pertambangan yang menggiurkan dan sejumlah usaha lainnya. Sahabat- seorang lainnya, lebih dikenal sebagai politisi handal partai besar di Indonesia dan ‘pagolo’.

Konon, persahabatan keduanya sebenarnya dikukuhkan dalam minat yang sama yaitu sepak bola. Keduanya pengelola persepakbolaan nasional yang mumpuni.

Singkat cerita, sang ‘pagolo’ ini membantu (memberikan pinjaman yang tak harus dilunasi) dalam jumlah yang fantastis. Inilah awal kentalnya persahabatan keduanya.

Ketika perekonomian nasional mulai tumbuh dan berkembangan, sahabat pengusaha kondang itu mulai bangkit ditandai mulai normalnya berbagai usahanya terutama pertambangan.

Dikisahkan, sahabat pengusaha itu mengajak sahabatnya untuk bekerja di berbagai perusahaannya. Sahabat politisi dan ‘pagolo’ ini, lalu bertanya : “Bagaimana caranya aku bekerja padamu, dan apa pekerjaan yang akan engkau berikan?”.

“Gampangji”, jawab sang pengusaha kondang tersebut.

Kerjamu hanya menemani saya saja“.

Sebulan kemudian, sahabat politisi partai besar ini menerima gaji pertamanya, jumlahnya cukup fantastis….lebih dari 200 jutaan rupiah.

(BeR-SaM-BuNG)