KE MALL, KE KAMPUS MERDEKA, KE MESJID, KERJA LAGI ; AYOK MI ??

Penantian yang tak kunjung datang” melandainya kurva covid-19 bisa mengikis harapan keberlanjutan aktivitas kemanusiaan kita. Kegusaran ini harus dijawab dengan menciptakan keseimbangan mengendalikan pandemi Covid-19 dan ketahanan ekonomi nasional.

Kebijakan kesehatan dan tujuan kebijakan ekonomi dalam pengendalian pandemi mestinya seiring – tidak mutual exclusive . Strategi epidemiologis yang diadopsi banyak negara – yang secara tepat digambarkan sebagai ‘palu dan tarian’ (Pueyo, 2020) – juga didasarkan pada prinsip ekonomi yang sehat. Dengan memperhatikan respons perilaku dan eksternalitas, sebagaimana tawaran Assenza et. al. (2020) untuk kebijakan penguncian dan pemulihan.

Beredarnya Surat Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perihal Antisipasi Skenario The New Normal BUMN, 15 Mei 2020, memperjelas sikap pemerintah telah memasuki pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menggeliatkan kembali aktivitas ekonomi nasional.

Dalam tahapan pemulihan kegiatan ekonomi BUMN melalui 5 phase dimulai 25 Mei sampai dengan 20 Juli 2020. Phase 1 (25 Mei) : Membuka sektor industri  & jasa kesehatan. Phase 2 (1 Juni) : Pembukaan Mall & toko retail, restoran retail dan dalam hotel. Phase 3 (8 Juni) : pembukaan tempat pendidikan (University & Training Center). Phase 4 (29 Juni) : pembukaan kegiatan ekonomi untuk seluruh sektor, dan pembukaan bertahap restoran, café, fasilitas kesehatan.  Pembukaan tempat ibadah termasuk perjalanan dinas sesuai prioritas & urgensi, dan kegiatan outdoor. Phase 5 (13 & 20 Juli) : pembukaan tempat atau kegiatan ekonomi lainnya menuju skala normal.

Awal Agustus operasi seluruh sektor secara normal dengan tetap mempertahankan protokol kesehatan dan kebersihan yang ketat.  #CovidSafe BUMN

 Teori Palu dan tarian Indonesia

Kelihatannya pemerintah Indonesia mengikuti strategi dua fase untuk menangani pandemi, sebagaimana banyak dipakai negara lainnya. Awalnya mereka merespons dengan tahap konfirmasi yang kuat yang sementara waktu membatasi kegiatan ekonomi untuk mengendalikan pandemi Covid-19 – ‘palu’. Pemerintah Indonesia menyodorkan paket stimulus ekonomi berupa program pemulihan ekonomi (restrukturisasi kredit, penjaminan & pembiayaan dunia usaha khususnya UMKM), insentif perpajakan dan stimulus KUR, dan perlindungan sosial (program keluarga harapan, kartu prakerja, insentif cicilan KPR, diskon tarif listrik bersubsidi).  Diawali, skenario antisipasi The New Normal BUMN, dengan protokol ketat menekan penyebaran Covid-19 – ‘tarian’.

Dalam konteks ini, kebijakan sektoral yang optimal harus menargetkan besaran absolut dari limpahan risiko infeksi dari interaksi tatap muka dan paparan ekonomi dari perubahan mendadak dalam pola pengeluaran, kekurangan permintaan, atau gangguan rantai pasokan.

  • Membatasi kegiatan yang menghasilkan eksternalitas risiko infeksi yang kuat tetapi eksternalitas ekonomi yang lemah (mis. restoran, bioskop)
  • Melindungi atau mensubsidi kegiatan ekonomi penting yang memiliki dampak ekonomi positif yang kuat, terutama jika mereka menggunakan eksternalitas risiko infeksi yang lemah (mis. perbankan, farmasi).
  • Berhati-hati mengelola kegiatan yang penting secara ekonomi dan memiliki limpahan risiko infeksi yang tinggi (mis. layanan kesehatan, pendidikan). Sektor-sektor ini memiliki dampak paling kuat terhadap kesejahteraan.
  • Mengelola eksternalitas statis adalah kunci untuk meminimalkan biaya ekonomi: jangan membuat pandemi lebih mahal daripada yang seharusnya!

Waspadalah terhadap limpahan infeksi yang dinamis, tingkatkan kesabaran selama penguraian dan jangan membayar pemulihan yang lebih cepat dengan mortalitas yang lebih tinggi.

Nilai kekebalan kelompok sangat tergantung pada kemampuan pemerintah mengelola ketersediaan obat dan vaksin secara cepat, tepat dan menyeluruh.

Dalam banyak hal, anjuran kebijakan ini tidak berbeda jauh dari yang disarankan oleh para ahli epidemiologi. Sebabnya, dinamika kebijakan optimal tergantung pada dinamika epidemi. Namun demikian, prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi sangat terkait dengan harga bayangan risiko infeksi, pilihan ‘simalakama’ antara kematian dan kemakmuran ekonomi, imunisasi yang dinamis dan penyebaran infeksi.

Pokoknya  kata orang Makassar :”erok-eroknu …friend “;  “eja tompi na doang”. !!!