Resensi Buku : Demonstran Dari Lorong Kambing

JUMAT 06 FEBRUARI 2015 23:37 WIB

indonesiana-10362624_10153046390198486_2387257793697783219_n.jpg

Judul Buku : Demonstran Dari Lorong Kambing

Karya : Amran Razak

Penerbit : Kakilangit Kencana

Cetakan : Pertama, 2015

Jumlah Halaman : 285

ISBN : 976-602-8556-48-4

Amran Razak adalah legenda, juga sebuah fenomena… Nama beliau sudah lama saya kenal “sepak terjang”-nya sebagai mantan aktivis mahasiswa yang juga demonstran paling militan pada zamannya sejak pertama kali memasuki jenjang perkuliahan di Universitas Hasanuddin tahun 1989. Lelaki kelahiran Makassar 2 Januari 1957 itu memang dikenal sebagai penentang rezim Orde Baru, mantan aktivis Pers & Pergerakan Mahasiswa, juga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan kerap menghuni sel tahanan sebagai bagian dari resiko perjuangannya.

Pertemuan pertama kali saya dengan beliau, sepanjang yang saya ingat adalah ketika saya baru mulai aktif di Penerbitan Kampus Identitas sekitar awal tahun 1991. “Kak Amran” begitu kami memanggilnya yang juga adalah senior di penerbitan kampus ‘Identitas” mampir ke ruang redaksi dengan gayanya yang khas : ramah, selalu tersenyum dan humoris. Penampilannya sederhana, santai dan casual. Seingat saya, mantan redaksi “Identitas” tahun 1977 tersebut mengenakan kemeja lengan pendek berwarna cerah dan celana Jeans. Beliau yang saat itu sudah menjadi dosen di Unhas mengajak kami bercanda, berdiskusi tentang banyak hal. Akrab. Membumi. Tak berjarak.

189990_1677311303005_1544183951_31675799_6101083_n

Lama tak jumpa, pertemuan saya dan Kak Amran terjadi kembali saat reuni nasional dan Halal Bi Halal IKA Unhas yang dilaksanakan tahun lalu di Ancol. Beliau menyapa saya duluan dan kami saling bertukar kabar. Gaya beliau masih nampak seperti pertama kali kami berjumpa nun 20 tahun silam: santai, sederhana dan kasual. Hanya terlihat lebih banyak helai rambut uban di kepala mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (Fisbud) periode 1979-1980 yang sekarang menjabat sebagai staf ahli Menteri Kelautan dan Perikanan  ini ,namun binar matanya masih tetap menyala-nyala. Bersemangat. Seperti dulu. Sampai kemudian, kami saling bercakap kembali di Facebook serta membahas buku terbaru beliau berjudul “Demonstran Dari Lorong Kambing” (DDLR). Kak Amran yang juga adalah Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas lalu berjanji mengirimkan segera buku itu untuk saya. Kemarin siang (4/2) buku tersebut tiba di rumah dan pulang dari kantor, saya langsung “melahap”-nya hingga tuntas, bahkan hingga melewati pucuk malam 🙂

Buku ini memang sangat menarik dibaca. Sebagai mantan reporter penerbitan kampus, kak Amran berhasil mengolah rangkaian kata demi kata dengan sangat memikat, runtut, mengalir lancar hingga pembaca terbuai dan tahu-tahu sudah sampai di halaman terakhir. Buku DDLR terbagi atas 13 Bab masing-masing : “Bangkitnya si Anak Lorong Kambing”,  “Remaja Lorong Kambing”,  “Anak HMI”, “Pers Nakal:Anti Order Baru”,””Era NKK/BKK”, “”Peristiwa Toko La”, “Pasca Perisitiwa Toko La”, “Sarjana Lorong Kambing”, “Bunda Terkasih”, “Berbasis Kelompok Studi”, “Kampus Baru Tamalanrea, Mushalla, Latoa Institute”, “Penyerbuan Kampus Baraya” dan “CPNS”.

10488029_10202414400631705_4090645379328645803_n

Buku ini memang menjadi manifestasi autobiografi penulisnya, diawali kisah kelahiran prematur seorang bayi laki-laki pada Januari 1957 cucu dari seorang sosok pemberani dan sakti dari Maros I Mangutung Daeng Garra.  Dialah Amran Razak, anak seorang pegawai douane (beacukai). Amran kecil tumbuh dan besar di Lorong 108–sebuah lorong kambing di jalan Mesjid Raya, lingkungan Baraya, tak jauh dari kampus lama Universitas Hasanuddin Makassar. Saya sangat terkesan pada kemampuan daya ingat Kak Amran menceritakan masa kecilnya yang mengagumkan & penuh warna di Lorong Kambing secara terperinci.

Diceritakan Amran kecil adalah sosok yang aktif, dinamis, lincah dan seringkali bermain bersama kawan-kawannya disekitar kawasan kampus lama Universitas Hasanuddin (Unhas) Baraya. Disana, ia membangun impiannya untuk kuliah di Universitas tersebut kelak–tingkat pendidikan yang jauh lebih tinggi dari sang ayah dulu. Saya sempat tertawa membaca pengalaman masa kecil beliau menonton pertandingan sepakbola di stadion Mattoangin tanpa membeli tiket dengan memanjat dinding stadion. Kalau ketahuan bisa kena pentung petugas keamanan stadion.

10014582_10201827930730324_1299511814_n

Memasuki bab berikutnya, kisah sang demonstran fenomenal ini tetap tak kehilangan ritme pesonanya. Bahkan terasa semakin membetot perhatian dengan “tensi” cerita yang kian meningkat dan makin bikin penasaran. Amran yang sempat melewatkan sebagian besar masa remajanya di Ternate kian terlihat “badung”-nya karena suka kebut-kebutan di jalan raya bahkan ia mendapat julukan khusus”Anak Makassar Kepala Angin”. Kenakalan “si kepala angin” ini perlahan surut menjelang masa lulus SMA hingga akhirnya,Ketua Kelompok Remaja Baraya, Libara (1979-1989) ini berhasil lulus di Fakultas Ekonomi Unhas tahun 1976. Pada September 1977, kak Amran untuk pertama kalinya menjadi Tahanan Poltabes Makassar karena dianggap melanggar lalulintas. Puluhan orang dari komunitas 2 lorong (108 & 108A) –terutama ibu-ibu serta remaja putri–berbondong-bondong datang mendesak agar “sang anak lorong” itu dilepaskan.

Tak lama kemudian, kak Amran dibawa ke tahanan Poltabes Makassar di jalan Balaikota. Penangkapan ini kemudian diprotes keras oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Unhas. Dua orang perwakilan Dema Unhas, Zohra.A.Baso dan Asmawi Syam sempat berdebat dengan Kapoltabes mendesak agar kak Amran dibebaskan. Perlakuan kekerasan yang dialaminya saat ditahan terekspos secara luas ketika Ketua Bidang Extern Dema Unhas, Atja Razak Thaha membuat pernyataan tertulis ke berbagai pihak dan pers.

profdemo

Perhatian saya semakin terpikat pada kisah bergabungnya kak Amran ke Surat Kabar Kampus (SKK)”Identitas” dengan cara yang unik.Berdasarkan kisah kak M.Dahlan Abubakar yang dikutip pada halaman 86, proses penerimaan beliau ketika memprotes plagiasi juara lomba karikatur SKK “Identitas”justru menjadi momen bersejarah karena tulisan protes yang diajukan Pendiri Serikat Penyair Kampus (SPK) tersebut mendapatkan apresiasi luar biasa. “Boleh juga anak ini, tulisannya bagus,”demikian tulis kak Dahlan dalam catatannya. Dan demikianlah kak Amran menjadi kru penerbitan kampus tertua di Indonesia Timur itu dengan cara tak biasa. Jika kru lain direkrut dengan cara pendidikan dan latihan kilat di beberapa tempat, maka kak Amran jadi redaksi Identitas melalui proses rekrutmen khusus 🙂 Ternyata tidak hanya aktif di SKK “Identitas” kak Amran juga aktif mengelola sejumlah bulletin mahasiswa “Balance Pers Grup” (BPG),pada halaman 91 beliau menulis:

Kerja di pers membutuhkan suasana bebas,merdeka. Suasana itu mahal untuk diperoleh. Aku merasa tak begitu bebas, merdeka untuk bergerak di lingkup Identitas, meski media tersebut sangat strategis di kampus bahkan beredar pula di seantero kampus perguruan tinggi Indonesia. Pemimpin redaksinya ex officio pula sebagai Kepala Humas Unhas, bahkan biaya penerbitannya memakai dana rektorat. Tak pelak lagi, jika Pemimpin Redaksinya menghadapi situasi sulit dalam kebijakan redaksi tentang pemberitaan, kadang menangkis; “Ini koran rektorat bung, makanya jadi terompet rektor”. Merasa terkungkung, tak bebas,tak bisa mengembangkan kreativitas jurnalistik sebagaimana yang kupahami, aku kemudian membuat Bulletin Balance. Logo Balance dicetak balok dari timah putih, masih tradisional. Slogan dibawah kopnya tertulis : Anti NKK/BKK. Semula keberadaan buletin ini tak digubris mahasiswa, apalagi kalangan pejabat teras kampus.

Perlahan tapi pasti eksistensi buletin Balance kian diperhitungkan. Isinya “satu warna” : selalu menyajikan kecongkakan penguasa orde baru, anti militerisasi (dwi fungsi ABRI), bau KKN pejabat kampus termasuk perilaku cuek sebagian mahasiswa terhadap masa depan bangsa. Pokoknya tak kenal kompromi: “keras, liar dan nakal”. Tak ayal pengalaman kak Amran ini membawa saya kepada nostalgia membangun tabloid “Channel 9” Fakultas Teknik Unhas tahun 1991 yang memiliki tema nyaris serupa dengan Buletin Balance . Saya ingat betul bersama teman-teman Fakultas Teknik yang juga masih terlibat aktif di SKK ‘identitas” ketika itu seperti M.Sapri Pamulu, Nasrun.A.Samaun, dan lain-lain, kami membangun tabloid mahasiswa”Channel 9″ dengan tema “Media Terpandang Meraih Bintang” menyajikan berita-berita seputar kampus serta artikel radikal & kontraversial yang berseberangan dengan pemerintahan orde baru.

ba3445f45f9f68fd1eb9f3f80c55f056_XL

Yang menarik dari penerbitan buletin Balance adalah mantan rektor Unhas alm.Prof.DR.Ahmad Amiruddin, pada pertengahan periode pertama jabatannya sebagai Gubernur Sulawesi Selatan, memberikan apresiasi kepada Buletin ini yang menjaga konsistensi independensinya. Menurut beliau, Pemimpin Redaksi Buletin Balance tak pernah meminta sesuatu, apalagi “bereaksi”lantaran tidak dipenuhi permintaannya kemudian melancarkan kritik.

BPG tak hanya menerbitkan buletin namun juga kerap menyelenggarakan diskusi panel dan seminar nasional yang keras melawan rezim orde baru, termasuk menerbitkan kumpulan puisi dimana empat diantaranya karya kak Amran yakni: Sajak buat Suharti, Petisi kepada Tuhan, Maut dan Sosok itu. Rupanya tak hanya Buletin Balance, Wakil Ketua Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Sulawesi Selatan (1982-1984) ini  juga menggagas lahirnya Buletin Masapeka (Mahasiswa Sarjana Pencinta Kantin) pada 1984-1985 serta Buletin Biara Romoromo sebagai manifestasi perlawanan atas kekakuan ritme DKM (Dewan Kesenian Makassar). Kak Amran kian “garang” memperlihatkan “sepak terjang”-nya pada rentetan peristiwa yang diuraikan pada bab berikutnya. Pembekuan Dewan Mahasiswa (Dema) oleh Penguasa Orde Baru melalui Pangkopkamtib Sudomo berdasarkan SKEP/02/KOPKAM/I/1978 diikuti dengan kebijakan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) /BKK di seluruh perguruan tinggi tak ayal membangkitkan pergolakan mahasiswa dimana-mana. Termasuk di Unhas. NKK dianggap sebagai alat untuk melumpuhkan kegiatan politik praktis mahasiswa dan menjadi kekuatan oposisi dalam sistem kekuasaan orde baru. Dema (Dewan Mahasiswa) merupakan kutub kekuatan mahasiswa dalam pergerakan terstruktur dan bersifat masif sehingga berperan besar mengkritik Pemerintahan otoriter Soeharto. Dema dibubarkan dam diganti dengan organisasi kemahasiswaan yang berorientasi kegiatan akademik dengan dalih melahirkan intelektual berbobot. Kak Amran terlibat dalam arus protes tersebut salah satunya menolak keras kedatangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Daoed Joesoef pada tahun 1979. Seperti diungkapkan dalam tulisan kak Dahlan Abubakar berjudul”membakar idealisme mahasiswa” 21 Oktober 2014:

Saya sering meliput aksi Amran sebagai seorang aktivis pergerakan mahasiswa. Yang paling fenomenal bagi saya adalah ketika Amran harus memindahkan lokasi aksinya ke kampus IKIP Ujung Pandang (kini Universitas Negeri Makassar), karena tidak diberi ruang melakukannya di Kampus Unhas Baraya. Waktu itu, aksi berlangsung di lapangan upacara di depan Gedung Rektorat IKIP Ujung Pandang (kini gedung Pasca Sarjana UNM). Hari itu, Amran bersama teman-temannya dari IKIP Ujung Pandang beraksi menandai terjadinya “pembunuhan”terhadap idealisme mahasiswa, sehingga harus ada aksi pemakaman idealisme mahasiswa. Mereka melakukan aksi teatrikal dengan membawa “keranda” sekitar 1,5 m yang dibungkus dengan kain putih. Benda itu kemudian dibakar, tepat di dekat tiang bendera lapangan upacara kampus barat IKIP Ujung Pandang tanpa ada yang mencegahnya.

Akibat aksi tersebut, Menteri Daoed Joesoef batal mengunjungi kampus Unhas dan segera meninggalkan Makassar. Gelombang aksi mahasiswa di Unhas terus berlanjut menolak penerapan NKK/BKK. Penolakan Dwi Fungsi ABRI juga menjadi salah satu agenda aksi mahasiswa kala itu. Salah satu peristiwa yang cukup fenomenal adalah peristiwa Toko La tahun 1980. Saya sempat mendengar cerita soal pengganyangan sejumlah toko Cina, namun tidak terlalu jelas, samar-samar dan menjadi misteri tersendiri. Buku DDLK menguak tabirnya dengan kisah yang dituturkan langsung oleh kak Amran sebagai saksi hidup kejadian tersebut. Peristiwa Toko La diungkap dalam satu bab tersendiri. Toko La merupakan toko tua milik non pribumi keturunan Cina, letaknya di Jalan Sungai Celendu, ujung utara Jalan Gunung Merapi, Makassar. Hari Kamis,10 April 1980, sebuah kabar memilukan tiba di wisma HMI Botlem. Beritanya, pemilik toko La memerkosa pembantunya bernama Suharti bahkan dikabarkan dibunuh. Mahasiswa yang mangkal disana serentak marah. Tumpukan kekesalan semakin membara pada penguasa yang memberikan keleluasaan bisnis yang berlebihan pada non pribumi keturunan Cina. Alhasil malam Jum’at itu suasana disekitar toko La begitu mencekam. Ratusan orang berkumpul di depan toko La mengutuk kejadian pilu yang menimpa Suharti.

Makassar akhirnya bergolak keesokan harinya,11 April 1980. Pengganyangan toko Cina bergemuruh dimana-mana. Kerusuhan pun meledak dahsyat. Begitu detail kak Amran menceritakan peristiwa yang terjadi 35 tahun silam itu, bahkan di Jakarta Laksamana Sudomo selaku Panglima Kopkamtib menyatakan diberlakukannya jam malam di Makassar. Kak Amran–yang pada era Reformasi sebagai Pembantu Rektor III Unhas mengawal mahasiswanya ke DPR RI membawa konsep reformasi, bertajuk”Pekik dari seberang Lautan yang Terjarah” ini– kembali merasakan sel tahanan ketika intel Laksusda/Pangkopkamtib Kodam VII Hasanuddin menangkapnya dengan tuduhan sebagai pelaku di balik kerusuhan  pengganyangan toko Cina 10-11 April 1980, di warung kopi A Ling (Toko Aroma) di jejeran toko pinggir jalan Masjid Raya.

Menarik disimak bagaimana romantika mantan Pembantu Rektor III Universitas Hasanuddin era Reformasi (1998-2001) ini “kucing-kucingan” dengan intel, tidak hanya di Makassar bahkan hingga ke Jakarta pada saat menghadiri kongres Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) di Gelanggang Mahasiswa Kuningan. Yang cukup menegangkan adalah cerita ketika pulang dari kongres IPMI, Kak Amran yang juga mantan Pembantu Dekan III FKM Unhas (1995-1997) tersebut, menumpang kapal Tampomas II ternyata sudah “ditunggu” oleh intel dan aparat Komando Distrik Militer (Kodim) di Pelabuhan Sukarno Hatta Makassar. Beliau berhasil lolos dari intaian intel dengan melompat ke bibir dermaga dimana KM Tampomas berlabuh. Cerita terus berlanjut hingga penyerbuan Kampus Unhas Baraya menjelang Pemilu DPR & DPRD 1982 yang menorehkan sejarah kelam dalam perjalanan kampus merah ini..

Romantika perjalanan hidup kak Amran Razak di buku DDLK ini tak hanya mengungkapkan jati diri sang penulis sebagai seorang demonstran yang militan, tak kenal takut dan idealis namun juga menyibak rangkaian sejarah pergerakan mahasiswa di era akhir 80-an, langsung dari perspektif sang pelaku sendiri. Tak salah bila dalam prolognya, kak Alwy Rachman menyebutkan : Amran Razak adalah sosok yang hadir di momen-momen kritikal, di antara dunia kekuasaan dan dunia kampus, di antara idealisme Mahasiswa Universitas Hasanuddin dan kekuasaan Orde baru. Disana sini pengalaman kritikal Amran Razak tergambar “binal” dan “banal”. Binal karena memang pengalaman Amran Razak penuh kejutan dan Banal karena aksinya sering tak terduga. Ya, buku DDLK ini adalah cermin sang penulis yang mengartikulasikan pengalaman berkesan dalam hidupnya secara jujur, terbuka dan tanpa basa-basi.

Racikan narasi yang jenaka, serius, sedih dan satire berpadu begitu harmonis. Saya bagaikan diajak kak Amran, mantan staf ahli Menteri Pemuda & Olahraga (2010-2013) ini, naik Roller Coaster merasakan turun naik, terjal landai dinamika kehidupan beliau di buku DDLK yang berlalu dengan ritme cepat, begitu menegangkan namun meriah dan penuh warna. Saya terasa hanyut dalam suasana membara dan mencekam pada penyerangan Kampus Baraya Unhas yang dikenal sebagai Serda Turil (Serangan 27 April), kegalauan ketika sempat tak lulus dalam seleksi dosen Unhas, ketegangan saat “ngumpet” dari kejaran intel laksus di rumah ibu Mubha Kahar Muang, kesedihan saat ditinggal ibunda tercinta untuk selama-lamanya hingga semarak riuh lorong kambing 108. Buku ini tak sekedar sebuah catatan kehidupan sosok si “anak kepala angin dari Makassar” tapi sebuah rangkaian utuh nan apik puzzle sejarah pergerakan mahasiswa Makassar dan kontraversi yang menyertainya.

 

https://indonesiana.tempo.co/read/31042/2015/02/06/Resensi-Buku:-Demonstran-Dari-Lorong-Kambing