Sajak-sajak aktivis Unhas 80-90an : ketika masa memangsa

Kita

Aku // Engkau // Berpacu // Dengan // Waktu // Tak ada lagi // Cerita tentang aku, engkau // Semua sudah habis // Di telan masa

SiAnG

Terik lintasan. // Kita melenguh lirih. // Lupa pin kata. // Setiba stasiun, // Paha merah tembaga, // Tujuan samar. // Matahari tegak, // Rencana berloncatan, // Pikiran kosong. // Kupulang saja, // Membilang kemungkinan, // Janji tertagih.

#denunhaiku

SeNJa

Semesta tebar gerimis sore ini // Meski masih malu // ‘tuk ungkapkan rasa tumpahkan asa … // Bagi bumi… // Bagi flora… // Bagi fauna… // Bagi insan kamil // Yang menanti datangnya senja…

S. Alam :  13/10/19

***

SENJA MAMPIR DI JENDELA

ia mungkin membawa balasan // dari surat cinta yang pernah kutulis // berlembar-lembar // untuk mereka yang beralamat // hanya dalam hati

#AnaMustamin

***

MALAM

rindu rembulan // pucuk gedung menjulang // memanjat langit

#AnaHaiku

 sisiri jalan // dalam gulita malam // bulan tersesat

#AnaHaiku

[10/14/2019]

***

Jiwakku luluh di ujung malam // Mendekap angin dalam telanjang // Bersimpuh luruh pada-Mu… // Menunggu rembulan datang..

Busman [14/10/19]

***

Ami Ibrahim:

D I A

1

Dia datang menjelang malam membawa nyawanya yang koyak dan beraroma badai. Sebelum mengetuk pintu dikeluarkannya seutas kenangan dari tas sandangnya. Dan terburailah kristal air mata masa lalu itu ke lantai senja.

2

Digeletakkannya nyawanya di ubin dingin surau itu. Ditatapnya sekujur derita yang masih segar meneteskan darah, sebelum dikecupnya luka terakhir yang ditoreh waktu di jidatnya.

3

Sebelum senja ringkas itu disungkup malam, dia basuh luka sekujur nyawanya dengan air mata kenangan. Sunyi menjalari semesta kealpaannya, kemudian mata lelakinya kembali dikelilingi malam.

4

Ia tatap matahari terbenam, seperti menyaksikan jasadnya luruh menjelma abu. Di sudut sunyi, serpih nyawanya masih berdenyut menyatakan rindu, melukis cinta yang tak mati-mati. Dia kini tinggal sepenggal kenangan, agaknya.

5

Inilah perjalanan tak sampai-sampai itu, rupanya. Dipungutnya remah debu jasad dan kristal air matanya, juga serpih nyawanya yang berserak, seperti menghimpun semesta perlawanan sepanjang hayat.

Dingin ubin, pintu tertutup dan malam yang bergegas datang, menyempurnakan seluruh keindahannya.

Dialah kekasih yang malang itu.

Kutipan dari The Genesis of Love, Vol 1

***

Ana Mustamin:

mengurai sepi // berdiam dalam hening // mengeja malam //

***

risau menikam // menembus jantung malam // bulan terkapar

***

Ooh malam… // Kesenyapan // Tak mampu mendampingiku // Menuju subuh yang kaya raya….

S. Alam [13/10/19] ***