SEMAKIN TOEA….


Matemija…….

Pagi, 30 September 2022

Saya sedikit terlambat memasuki Ruang Senat Universitas Hasanuddin  (Unhas) untuk menghadiri proses Pemilihan Ketua dan Sekretaris baru SENAT AKADEMIK (SA) UNHAS periode 2022-2026.  Saya masuk rektorat berbarengan salah seorang profesor keperawatan (Prof. Elly Sjattar) menaiki lift lantai 2 Rektorat.

Ternyata, Rapat Paripurna SA Unhas telah dimulai, dipimpin oleh anggota SA tertua  Prof Abd Hakim Yassi — tetangga satu blok di perumahan dosen (perdos) Unhas- Tamalanrea dan termuda— dan anggota SA Unhas termuda bernama Agus Bintara , seorang dosen yunior yang kebetulan kolega di Fak. Kesehatan Masyarakat.

Begitu saya masuk sontak  langsung duduk di deretan kursi depan sisi tengah. Astagafirullah… ternyata dari 4 kursi di meja tengah itu, di isi 3 kursi calon Ketua SA-Unhas (Prof Bahruddin Thalib – FKG, Prof.Yusran, Kehutanan, dan Nasaruddin Salam – Teknik).

Tiba-tiba Prof Mursalim  datang mencolek saya : “Hampir Bapak yang pimpin sidang paripurna karena bapak tertua kedua. Tadi saya bilang : “kalo mau seru, kasih tertua kedua yang pimpin sidang. !” Saya tersenyum kecil. Lalu saya menimpali : “Untung ada Prof Abd Hakim tertua beberapa bulan dari saya. Hampir saja pimpinan Sidang Paripurna SA-Unhas keduanya berasal dari FKM, selorohku.

Seorang anggota SA menggelitik saya karena berada di baris depan. Botak saya menyala, katanya. Candaannya saya tangkis :  “Botak saya sah karena sudah profesor, tapi yunior saya juga rada gundul – sambil menunjuk ke arah Sekretaris Sidang – Agus Bintara.

Ternyata, ‘masalah’ saya belum selesai sampai di situ. Duduk berdampingan dengan para kandidat Ketua SA Unhas, membuat saya nyaris rikuh. Untuk menetralisasi rasa itu —untungnya, tiga kandidat tersebut ada hubungan emosional ‘kultural-historis-demografis denganku. Sambil bercelotoh saya menjelaskan kepada mereka, bahwa Prof Bahruddin Thalib misalnya, kami sama-sama penasehat pada organisasi paguyuban Kerukunan Keluarga Maluku, Prof Yusran Yusufsekampung ibu saya dari Maros, dan Prof Nasaruddin Salam – kami ‘serumpun’  dalam Ikatan Suami Orang Tanete (ISOT) – Bulukumpa. Entah cerita saya mengalir atau membasi. Tak sempat kutakar.

Sebenarnya, saya ingin sekali pindah ke meja belakang di samping prof Arsyad tapi di sebelahnya masih ada Prof Itji Amin Daud yang sempat menyapa saya karena persis sejajar kursi saya. Setelah prof Itji bergeser ke belakang.—ternyata saya mulai merasa tenteram meski beberapa kali harus berdiri karena kandidat Ketua harus tampil di mimbar Paripurna SA-Unhas. Sesekali saya melirik posisi Rektor, ternyata berdampingan dengan Prof. Juanda di baris tengah.

Tapi perlahan kerikuhanku menguap. Saya  mulai merasa tenteram, meski beberapa kali harus bediri memberi jalan para calon Ketua SA Unhas satu persatu menuju podium Paripurna SA-Unhas.

Suasana proses pemilihan berlangsung riuh tentu. Dari penghuni blok AG perdos Unhas, cukup banyak terpilih jadi anggota SA (Prof. Hamka, Prof Faturrahman,  Prof Asdar, Prof Lukman dan Prof Latifa serta Prof Hakim Yassi).

Entah mengapa, di tengah suasana riuh proses pemilihan ketua dan sekretaris SA-Unhas, saya tiba-tiba terkenang pada awal dekade 80-an, Saya merasakan ketika Fak. Ekonomi (sekarang bernama Fak. Ekonomi dan Bisnis), Fak. Sastra (sekarang Fak. Ilmu Budaya), dan Fak. Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) masih ber-fusi-kan dalam nomenklatur Fak. Ilmu-Ilmu Sosial Budaya (FIISBUD). Mengurusi lembaga kemahasiswaan cukup besar di FIS Tamalanrea. Sambil berinteraksi dengan civitas-academica yang se-kompleks, yaitu Fakultas Hukum.

Sebagai Sarjana Ekonomi (SE)  pertama  yang menjadi dosen FKM  di Indonesia, saya mau tak mau mesti berbaur dan beraroma “medical complex”.Lalu pernah pula tak kurang dari 12 tahun bertugas di di jajaran kantor rektorat dan sekitarnya. Menjadi Pembantu Rektor III di masa reformasi, dua periode didapuk  menjadi Sekretaris Lembaga Penelitian Unhas, dan sempat beberapa bulan menjalankan tugas sebagai Plt. Ketua Lembaga Penelitian Unhas. Semua rangkaian pengalaman itu, bisa membuat saya sedikit “genit” bila ingin ‘mengamati’ pentas di rektorat Unhas.

Kembali ke proses pemilihan ketua dan sekretaris SA-Unhas. Berjalan seru dan hampir alot terutama ketika pembahasan tatacara pemilihan. Betapa tidak, dari 87 anggota SA-Unhas dihadiri 79 anggota SA-Unhas. Alhasil, Prof Bahruddin Thalib memperoleh 46 suara untuk diamanahi sebagai Ketua SA Unhas dan forum secara  aklamasi mempercayakan Prof.Budimawan sebagai Sekretaris SA-Unhas.

Bermula  dari rasa rikuh, diam-diam saya merasa beruntung. Hari itu Allah menempatkan saya duduk persis di samping seorang yang akhirnya terpilih sebagai Ketua SA di almamater kami tercinta.

Selamat dan sukses mengemban amanah, Prof Bahruddin dan Prof. Budimawan.

LENCANA DARI JOKOWI  

Hari Kesaktian Pancasila (1/10/2022)

Sepulang menghadiri proses pemilihan ketua dan sekretaris SA-Unhas, sekitar ba’da jumat (30/09/2022), saya mendapat pesan melalui whats-app dari staf departemen AKK FKM Unhas. Isinya minta saya hadir dalam Upacara Hari Kesaktian Pancasila, besok (1 Oktober 2022). Dress-code :  Pakaian Sipil Lengkap (PSL) dan berkopiah.

Saya tentu saja kelabakan.  Sudah dua tahun lebih sepanjang pandemi Covid-19 saya tidak pernah menyentuh stelan jas.Dasi di mana, kemeja polos putih lengan panjang di mana. Saya tidak tahu. Isteriku sedang ada dinas luar mengelola pelatihan kantornya.

Sepatu hitam, andalan saya yang  juga mulai pupus alasnya, kusam lantaran kelamaan tak dipakai. Kaos kak juga bercerai-berai dengan pasangannya, berbaur di antara puluhan kaos kaki tak tergubris untuk dirangkulkan dengan jodohnya masing-masing.

Akhirnya,  anak perempuan saya mengambil alih tugas ibunya,  memanjakan saya menyiapkan pakaian upacara. Mencari stelan jas, kemeja, dasi, dan tak lupa menyambar kaos kaki suaminya untuk dipinjamkan. Saya hanya menyiapkan kopiah dan memoles sepatu hitam andalanku.

Alhamdulilah semua perlengkapan sudah siap. Isteriku ikut lega lewat suaranya di balik telepon.

Isteriku bilang saya harus tampil ‘prima’ sesuai dress code. Besok ada peristiwa penting dan bersejarah. Saya akan menerima sematan lencana kiriman  Presiden RI : Satya Lencana 30 Tahun yang seharusnya beberapa tahun lalu.

Tapi disemati lencana pengabdian 30 tahun, bagi saya hanya sebatas ‘penyempurna’ sebagai abdi bangsa dan sebagai pendidik. Toh, tak setiap hari orang mampu minum susu, pikirku. “Ketegangan”-ku menghadapi upacara besok agak kulemaskan. Saya berusaha melupakan basa-basi upacara. Saya pun belum pernah bersua serius—kecuali bertegur sapa, dengan Rektor Unhas yang baru dalam sebuah acara formal.

Ba’da subuh saya sudah berpakaian PSL lengkap dan mematut-matut kopiah menutup kepala plontosku — setelah semalam sempat bergerilya untuk cukur madura. Saya memesan transportasi online. Tiba-tiba  anak dan cucuku juga siap. Mereka beri kejutan untuk mengantar saya. Saya pun membatalkan  orderan transportasi daring.

Di lapangan basket, saya menyapa begitu banyak tenaga pendidik (tendik) terutama yang lama bercokol di rektorat dan lembaga penelitian.

Sejujurnya, dalam masa dua priode kepemimpinan Rektor Prof. Dwia, saya tak pernah lagi berbaris di Lapangan Basket Unhas. Seingat saya, hanya pernah berada di sekitar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas, ketika saya ke Arenatorium JK untuk suntik vaksin. Meski dua kali kedatangan saya itu, saya gagal disuntik dengan alasan kondisi saya tak memenuhi syarat untuk divaksinasi. Meskipun rakyat lanjut usia diprioritaskan pemerintah, tapi kadang ada saja penyebab pada manula sehingga tak boleh dieksekusi. Maklum mami ki : orang tua kodong.

Seusai upacara hari kesaktian Pancasila, giliran penerima satya lencana menunggu disisipkan lencana oleh Rektor Unhas. Barisan terbagi 3 kelompok yaitu penerima Satya Lencana 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun. Tak ada yang nyasar barisan karena usia pengabdian. Raut wajah juga jadi pembeda, yang belum tua maupun yang disepuh gurat-gurat usia.

“Rasanya, senang dan bangga”, kata Prof Zulkifli dan Prof Alimin – keduanya mantan Dekan FKM Unhas. Layak jadinya berterima kasih pada pimpinan Universitas/Fakultas dan tendik yang peduli mengurus satya lencana dari presiden Jokowi.

Seusai penyematan lencana, diam-diam saya bergegas meng-order transport online lagi.

Ada hal yang ingin segera saya rayakan : kembali mengasuh dan bercengkerama dengan cucu di Bukit Baruga.

Keterlanjuran yang mengasyikkan dan wajib disyukuri : toea……..

“lebih banyak mendengar daripada berbicara