VAKSINASI MASSAL : PROSPEKTIF EKONOMI KESEHATAN

 

Oleh : Amran Razak

Vaksin memberikan manfaat penting kepada semua orang. Melalui vaksinasi, kita dapat melindungi diri dari penyakit infeksi yang berbahaya, bahkan penyakit mematikan. WHO menemukan, setidaknya 10 juta angka kematian di seluruh dunia berhasil dicegah oleh vaksinasi (2010-2015).1

Informasi tentang vaksinasi massal menangkal penyebaran COVID-19 di Indonesia, masih amat beragam. Menko Maritim Luhut H.P. mengumumkan sekitar 6,6 juta dosis vaksin akan dimulai awal November.2 Dirjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto menegaskan 9,1 juta dosis vaksin telah disiapkan.3 Vaksin yang dipesan dari China itu adalah produksi Sinovac, G42/Sinopharm, dan CanSino Biologics.

Perdebatan sekitar vaksin yang dipakai belum transparan. Salah satu vaksin yang akan digunakan dalam program vaksinasi adalah vaksin Covid-19 adalah Sinovac Biotech. Produsen vaksin China ini sudah berkomitmen mengirimkan 3 juta vaksin tahun ini dan 15 juta dalam bentuk bulk. Di saat yang sama biofarma menyiapkan vaksin single dose sebanyak 340-370 juta untuk 160 juta orang.4 Selain itu, Kimia Farma (Pemerintah) dan Kalbe Farma (swasta) membeli vaksin Sinopharm (double dosis)  dan Cansino (single dosis), yang sempat diberitakan pembatalannya.

Vaksinasi diprioritaskan pada tenaga medis, polisi dan tentara) sebanyak 3 juta orang. Selanjutnya prioritas II bagi tokoh masyarakat, pejabat dan pengurus kampung sebanyak 6 juta orang.5

Total dosis yang disiapkan biofarma sebanyak 370 juta vaksin (syarat minimal  70 % penduduk Indonesia harus divaksin serentak, jika tidak ingin gelombang pandemi berikutnya yang lebih ganas) karena virus jadi kebal.5,6 Sampai saat ini, yang di-GRATIS-kan baru tertuju pada penerima PBI (Penerima Bantuan Iuran) – JKN/KIS/ BPJS Kesehatan.3

 

                           SATUAN BIAYA VAKSIN/DOSIS
No
Satuan vaksin
Jumlah
Harga (Rp)
(jutaan)
TOTAL
1
Vaksinasi massal – LHP
      6,600,000
biofarma / single dose
           200,000
biofarma / dual dose
            400,000
       2,640,000
2,64 T
 
Vaksin double dosis           Sinovac biotech
     6,600,000
           867,000
      5,722,200
5.70 T
 
2
Vaksinasi massal – Achmad Y
    9,100,000
biofarma / dual dose
             400,000
       3,640,000
3,64 T
Vaksin double dosis           Sinovac biotech
           867,000
     7,889,700
7,89 T
9,500,000
     2,500,000
    23,750,000
23,75 T
3
Target penduduk (jiwa)
 160,000,000
biofarma / double dosis
160,000,000
         400,000
            64,000
64,00 T
Vaksin dual dose           Sinovac biotech
 160,000,000
           867,000
       138,720
138,72 T
96,600,000
PBI (APBD)
35,100,000
Total PBI JKN/KIS (BPJS Kes)9
131,700,000
biofarma / double dosis
131,700,000
       400,000
           52,680
52,68 T
Vaksin double dosis       Sinovac biotech
       131,700,000
                 867,000
               114,184
114,18 T
5
biofarma  single doses (tersedia)
        340,000,000
                 200,000
               68,000
68,00 T
 
370,000,000
          200,000
        74,000
74,00 T
6
INDONESIA – penduduk
168,583,016
 
biofarma / dual dose
        400,000
7,433,200
107,43 T
70%
188,008,111  75,203,200 75,20 T

Bandingkan dengan dana stimulus dana COVID-19 : Tahap I (total )  = Rp. 405,1 Triliun, Sektor Kesehatan =  Rp. 75 Triliun (18,5 %)7 Tahap II (total)  =  Rp. 695,20 T, Sektor Kesehatan =  Rp. 87,55 Triliun (12,6 %)8

TERGESA-GESA

Rencana pemberian vaksin secara besar-besaran pada November atau Desember patut dipertanyakan. Secara bersamaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat dan Ikatan Dokter Paru Indonesia (IDPI) mengeluarkan statemen bahwa pemerintah harus penuh kehati-hatian, tidak terburu-buru dalam menentukan jenis vaksin terpilih dan pelaksanaan vaksinasi massal.10-11

Pemerintah sendiri masih harus mengurusi banyak hal  mulai dari harga vaksin, kualitas, distribusi, kesiapan puskemas dan rumah sakit, sampai siapa yang mendapat prioritas suntikan vaksin tersebut dan siapa yang mendapat vaksin gratis atau mandiri.12

Saat ini, pemerintah sedang sibuk melatih 23.145 tenaga kesehatan sebagai vaksinator untuk vaksinasi 2021 berbasis layanan Puskesmas.13 Sampai saat ini, kalangan DPR RI belum pernah ada skema kebijakan fiskal untuk vaksin menangkal COVID-19.14

 HIDUP NORMAL PASCA SUNTIK VAKSIN

Pasca vaksinasi massal tak serta-merta bisa leluasa beraktivitas seperti sebelum pandemi COVID-19, masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan secara ketat karena menurut Ketua Tim Riset uji klinis vaksin COVID-19 Unpad, Prof. Kusnadi Rusmil butuh 2 tahun untuk kembali normal. Jika pertengahan tahun 2021 mulai dilakukan vaksinasi massal bagi seluruh penduduk Indonesia yang butuh 2 tahun untuk vaksinasi menyeluruh.12 Artinya butuh 2-4 tahun supaya bisa memasuki kehidupan normal.

VAKSIN BUKAN SEGALANYA

Pernyataan mengejutkan diutarakan ahli kesehatan global. Bahwa, tak satupun dari uji coba kandidat vaksin corona (Covid-19) dapat mendeteksi penurunan rawat inap atau kematian akibat virus. Dalam jurnal medis BMJ, Peter Doshi mengatakan bahwa uji coba vaksin berupaya membuktikan produk mana yang bisa mencegah orang terinfeksi corona. Namun warga dunia kemungkinan akan kecewa karena vaksin hanya mengurangi risiko infeksi 30%.15 Tak satu pun dari uji coba yang saat ini sedang berlangsung dirancang untuk mendeteksi pengurangan hal serius seperti masuk rumah sakit, penggunaan perawatan intensif, atau kematian, tulis Doshi.16

Secara epidemiologis belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin. Dengan kata lain, pandemi itu berakhir sebelum uji klinis selesai. Salah satu alasannya, karena teknologi pengembangan vaksin di dunia belum cukup cepat merespon sebuah pandemi. Sampai saat ini tidak ada pandemi yang selesai dengan vaksin. Karena teknologi pengembangan vaksin yang dimiliki dunia belum cukup cepat dan canggih merespon. Teknologi pengembangan vaksin saat ini masih butuh waktu yang lama dalam menciptakan vaksin yang aman dan efektif. Ada beberapa hambatan yang menyebabkan pengembangan vaksin butuh waktu lama. Terutama kasus-kasus penyakit baru, masih banyak hal yang belum diketahui tentang penyakit ini. Selain itu, teknologi yang ada juga masih belum memberikan jalan singkat untuk membuat vaksin.17

Pandemi SARS dan MERS yang diakibatkan dengan virus corona yang mirip dengan virus SARS-CoV-2 dapat dituntaskan tanpa adanya vaksin dan obat.

Meski sekarang, sudah ada sejumlah jalur cepat untuk menciptakan sebuah vaksin. “Walau ada vaksin Zika yang (selesai dalam) 18 bulan, tapi itu belum efektif. Artinya, berdasarkan pengalaman pandemi sejauh ini kita belum bisa mendasarkan penyelesaian pandemi pada vaksin.

Semua pandemi yang pernah terjadi selesai karena intervensi kesehatan masyarakat (public health intervention). Pandemi selesai dengan pengetesan, pelacakan, isolasi, karantina, dan perawatan. Karenanya, masyarakat harus tetap waspada dengan membiasakan melakukan kombinasi 3T (testing, tracing, dan treatment) serta 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan). Didukung kebijakan Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) yang ketat untuk mencegah mobilitas yang menjadi faktor penyebaran Covid-19.17

Adapun vaksin yang sudah cukup efektif, baru terjadi pada penyakit menular yang yang menjadi endemik, misalnya polio, DBD, Ebola termasuk HIV membutuhkan waktu yang lama untuk dapat mengendalian penyakit-penyakit tersebut. Epidemi Ebola di Afrika bisa terkendali bukan karena obat atau vaksin. Melainkan akibat intervensi kesehatan di luar vaksin dan obat.

Secara faktual sejarah pandemi yang harus dipahami dan jadi rujukan pengambilan kebijakan, agar tidak keliru ketika menentukan kebijakan yang dibutuhkan.

Terhadap penyakit SARS dan MERS ini cukup mudah untuk diidentifikasi karena menimbulkan gejala bagi orang yang terinfeksi. Sehingga memudahkan melakukan isolasi para penderita penyakit ini.

Di sisi lain, banyak pasien Covid-19 yang sama sekali tak menimbulkan gejala. Virus SARS-CoV-2 lebih menyukai untuk menginfeksi saluran napas atas, seperti rongga hidung, faring, dan laring sebagai tempat untuk bereplikasi. Hal ini mengakibatkan orang yang terinfeksi tak menyebabkan gejala. Namun, begitu virus sampai ke paru, baru nampak gejalanya.

Adanya signal, bakal batalnya (akan dimundurkan) vaksinasi massal pada minggu kedua November 2020, memberikan kesan tergesa-gesanya kebijakan pemerintah menangani vaksinasi massal di Indonesia.  Penundaan itu, konon disebabkan keinginan untuk berhati-hati setelah diingatkan berbagai lembaga profesi kesehatan.

“Bukan karena barangnya, barangnya siap, tapi adalah emergency used authorization (izin penggunaan darurat) belum bisa dikeluarkan BPOM karena ada aturan-aturan, step-step yang harus dipatuhi,” ujar Luhut.18

_______________________

Sumber :

  1. Vaksinasi, diakses dari https://www.sanofi.co.id/id/kesehatan-anda/obat-resep/Vaksinasi
  2. Bio Farma : 340 juta dosis vaksin Corvid-19 Sinovac untuk Indonesia pada 2021, diakses dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/21/183200223/bio-farma–340-juta-dosis-vaksin-covid-19-sinovac-untuk-indonesia-pada?page=all.
  3. RI Vaksinasi 9,1 Juta Orang Tahun Ini Pakai Vaksin China, diakses dari https://www. cnbcindonesia.com/ tech/20201019122900-37-195358/ri-vaksinasi-91-juta-orang-tahun-ini-pakai-vaksin-china
  4. Yohanes CakrapradiptaWibowo, Belum Ada Vaksin Covid-19 yang Ampuh, Kenapa Vaksinasi Dimulai November,?, diakses dari : https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/19/ 120600523/belum-ada-vaksin-covid-19-yang-ampuh-kenapa-vaksinasi-dimulai-november-?page=all
  5. Dahlan Iskan, Larian Duluan, Artikel ini telah tayang diJPNN.comdengan judul “Lari Duluan”, https://www.jpnn.com/news/lari-duluan?page=4
  6. Indonesia Pesan 370 Juta Dosis Vaksin Covid ke Tiongkok dan UEA, diakses dari https://www. jawapos.com/nasional/25/08/2020/indonesia-pesan-370-juta-dosis-vaksin-covid-ke-tiongkok-dan-uea/
  7. Stimulus Jokowi Lawan Covid-19 Rp405 T Masih Bisa Bertambah, diakses dari https://www. cnbcindonesia.com/news/20200515135644-4-158795/stimulus-jokowi-lawan-covid-19-rp405-t-masih-bisa-bertambah
  8. Stimulus Covid-19 Indonesia Terlalu Kecil Dibandingkan Negara G20, diakses dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20200624/9/1256951/stimulus-covid-19-indonesia-terlalu-kecil-dibandingkan-negara-g20-cek-di-sini 
  9. Akan Dapat Vaksin Gratis, Berapa Jumlah Peserta Penerima Bantuan Iuran BPJS Kesehatan?,diakses dari: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/08/akan-dapat-vaksin-gratis-berapa-jumlah-peserta-penerima-bantuan-iuran-bpjs kesehatan#:~:text=Berdasarkan%20data%20BPJS%20Kesehatan%20hingga,mencapai%2017%2C7%20juta%20jiwa
  10. Surat Pengurus Pusat Persatuan Dokter Paru Indonesia (PP-PDPI) tentang Pandangan PDPI mengenai vaksin COVID-19, Nomor : 291/PP-PDPI/X/2020 tertanggal 21 Oktober 2020
  11. Surat Edaran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), perihal Vaksinasi Civodi-19 Nomor 03657/PB/E.1/10/2020 tertanggal 21 Oktober 2020
  12. Ketua Tim Riset: Usai Suntik Vaksin Corona, Butuh 2 Tahun Untuk Kembali Normal, diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20201022073118-33-196184/maaf-ahli-kesehatan-sebut-vaksin-covid-cuma-efektif-30
  13. Gerak Cepat! Pemerintah Siapkan 23.145 Tenaga Kesehatan sebagai Vaksinator untuk Vaksi-nasi 2021, diakses dari https://lingkarkediri.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-67798771/ gerak-cepat-pemerintah-siapkan-23145-tenaga-kesehatan-sebagai-vaksinator-untuk-vaksinasi-2021? page=2
  14. Wawancara dengan Kamrussamad, Anggota DPR RI Fraksi Gerinda dapil Jakarta Utara, 25 Oktober 2020 via WhatsApp
  15. Maaf, Ahli Kesehatan Sebut Vaksin Covid Cuma Efektif 30%, diakses dari https://www. cnbcindonesia.com/lifestyle/20201022073118-33-196184/maaf-ahli-kesehatan-sebut-vaksin-covid-cuma-efektif-30
  16. Vaccine trials ‘can’t detect’ virus risk reduction: expert. Available from :https://www. france24. com/en/live-news/20201021-vaccine-trials-can-t-detect-virus-risk-reduction-expert
  17. Ahli : Belum Ada Pandemi yang Selesai Karena Vaksin, diakses dari https://www. cnnindonesia. com/teknologi/20200915155045-199-546774/ahli-belum-ada-pandemi-yang-selesai-karena-vaksin
  18. Sinyal dari Luhut: Vaksinasi Covid-19 di November Batal, diakses dari https://www.wartaekonomi. co.id/read310757/sinyal-dari-luhut-vaksinasi-covid-19-di-november-batal/0